MADINA azkyalnewsnetwork.com – Pakkat, salah satu makanan khas di bulan Ramadhan yang selalu menjadi buruan warga di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menjelang berbuka puasa.
Hidangan sederhana berbahan pucuk rotan muda ini hadir hampir di setiap sudut pasar tradisional saat waktu berbuka semakin dekat.

Pakkat dikenal dari cara pengolahannya yang khas. Pucuk rotan muda dibakar utuh hingga bagian luarnya tampak gosong kehitaman.
Setelah itu, kulit luar yang hangus dikupas, menyisakan bagian dalam berwarna putih kekuningan dengan tekstur lembut.
Cita rasa pakkat yang cenderung pahit. Namun, justru rasa pahit inilah yang membuatnya digemari. Sensasi pahit berpadu aroma bakaran yang khas menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan menu berbuka lainnya.
Banyak warga menyantap pakkat sebagai makanan tambahan setelah mengonsumsi hidangan utama.
Di Kabupaten Mandailing Natal, pakkat bukan sekadar makanan pelengkap. Pakkat telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Ramadhan yang terus bertahan.
Setiap sore menjelang magrib, penjual pakkat biasanya mulai dipadati pembeli yang ingin membawa pulang hidangan ini untuk keluarga.
Bahan utama pakkat berasal dari pucuk rotan muda yang masih segar. Rotan yang dipilih adalah bagian paling muda agar menghasilkan tekstur yang tidak keras.
Proses pembakaran dilakukan secara langsung di atas bara api untuk mempertahankan aroma alami sekaligus memberikan rasa khas pada daging rotan.
Bagi masyarakat Mandailing Natal, kehadiran pakkat saat Ramadhan selalu dirindukan. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan keluarga saat berbuka puasa.
Meski rasanya tidak manis seperti takjil pada umumnya, pakkat tetap memiliki tempat tersendiri di hati warga.
Keberadaan pakkat sebagai makanan khas Ramadhan menunjukkan kekayaan kuliner lokal yang masih terjaga. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi identitas kuliner masyarakat Mandailing Natal setiap bulan suci ramadhan.
(MJ)













