MADINA azkyalnewsnetwork.com – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) bekerjasama dengan Pemerintah Kecamatan Puncak Sorik Marapi ( PSM) serta Pengawas Gunung Api (PGA) terus mengamati kondisi terkini status Gunung Sorik Marapi di Desa Sibanggor.
Hal tersebut, menyusul terjadinya peningkatan status Sorik Marapi yang Sabtu pagi (4/4) dinyatakan naik ke level 2 dengan status waspada.

“Jadi saat ini tim kita dari BPBD bahkan pihak Kecamatan dan sejumlah Desa terus memantau ketat perkembangan terkini Sorik Marapi bersama Petugas Gunung Api dan saat ini kita telah membentuk posko di kawasan tersebut”, ucap Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Mukhsin Nasution melalui sambungan telepon, Sabtu sore (4/4).
Seperti diketahui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi menaikkan status aktivitas Gunung Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada). Kenaikan status ini berlaku efektif sejak Jumat (3/4/2026) pukul 21.00 WIB.
Keputusan diambil menyusul peningkatan aktivitas kegempaan yang signifikan, yang mengindikasikan adanya migrasi magma dari kedalaman menuju permukaan. Kondisi ini berpotensi memicu erupsi freatik maupun semburan lumpur.
Berdasarkan data resmi Plt. Kepala Badan Geologi, Dr. Lana Saria, tercatat lonjakan gempa yang cukup tajam. Dalam dua hari terakhir terjadi 115 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 4 kali gempa terasa. Hingga pukul 18.00 WIB, terekam kembali 49 kali gempa vulkanik dalam dengan intensitas hingga Skala IV MMI.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Mandailing Natal, H. Saipullah Nasution, langsung menginstruksikan jajarannya untuk menyebarluaskan informasi ini ke seluruh wilayah terdampak.
“Kami telah menginstruksikan jajaran untuk meneruskan imbauan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat guna meningkatkan kewaspadaan bersama,” ujar Camat Puncak Sorik Marapi, Yanjahudin, Sabtu (4/4).
Sehubungan dengan status Waspada ini, pemerintah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Masyarakat dan wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas dalam radius 1.500 meter dari pusat kawah utama.
Selain itu, area Kawah Sibanggor Tonga dan Kawah Sibanggor Julu harus segera dikosongkan untuk menghindari potensi bahaya gas beracun dan semburan lumpur yang bisa terjadi tiba-tiba.
“Semua pihak diminta menjaga situasi kondusif dan tidak menyebarkan berita bohong (hoax). Percayalah hanya pada informasi resmi melalui Website Magma Indonesia atau kanal resmi Badan Geologi,” tegasnya.
Sementara itu, pantauan wartawan di lapangan pada Sabtu pagi, aktivitas warga di sejumlah desa di lereng gunung masih berjalan seperti biasa dan belum ada warga yang mengungsi. Namun, sebagian besar warga mengaku belum mengetahui informasi perubahan status gunung tersebut.
(AFS)












