Menu

Dark Mode
Video Pengakuan Kasatlantas Sebut Oknum AKBP Dibalik Kasus Lakalantas Ke Hakim PN Madina Oknum Polisi dan Istri Anggota DPRD Tipu Puluhan Personel, Kerugian Capai Rp10,2 Miliar Fakta Persidangan Korupsi, Ada Dugaan Aliran Dana ke Plt Kadis PUPR Madina Parkir di Masjid Agung Mulai Bayar Jelang Magrib, Pengendara Terkapar di Jalan Raya Mompang Julu BPBD Bersama Pihak PGA Pantau Ketat Perkembangan Gunung Sorik Marapi

Adventorial

Baul-Baul, Wadah Tradisional Alame yang Sarat Makna Budaya Mandailing

badge-check


					Baul-Baul, Wadah Tradisional Alame yang Sarat Makna Budaya Mandailing Perbesar

MADINA azkyalnewsnetwork.com – Baul-Baul merupakan istilah dalam bahasa Mandailing yang merujuk pada wadah atau pembungkus tradisional untuk dodol khas Mandailing yang dikenal dengan nama Alame. Dalam masyarakat Mandailing, baul-baul tidak sekadar berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya lokal.

Baul-Baul juga sering disebut sebagai Baul atau Sumpit. Istilah ini digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Mandailing untuk menyebut kemasan tradisional yang membungkus Alame agar tetap rapi, aman, dan mudah dibawa. Penyebutan yang berbeda-beda tersebut tetap mengarah pada fungsi yang sama, yakni sebagai wadah khas untuk produk pangan tradisional.

Alame sendiri merupakan dodol khas Mandailing yang memiliki cita rasa manis dan tekstur kenyal. Keberadaan baul-baul sebagai pembungkus Alame memperkuat nilai tradisi dalam setiap penyajiannya. Wadah ini menjadi ciri pembeda antara Alame dengan dodol dari daerah lain di Indonesia.

Dalam praktiknya, baul-baul digunakan khusus untuk membungkus Alame sebelum dibagikan atau dijual. Fungsi ini menunjukkan bahwa kemasan tradisional tersebut telah menyatu dengan produk yang dibawanya. Hubungan antara Alame dan baul-baul tidak dapat dipisahkan dalam konteks budaya Mandailing.

Penggunaan istilah baul-baul mencerminkan kekayaan bahasa daerah Mandailing. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas dan warisan budaya. Dengan tetap mempertahankan istilah ini, masyarakat Mandailing turut menjaga keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Keberadaan baul-baul menjadi bukti bahwa kemasan tradisional memiliki nilai historis dan kultural. Di tengah perkembangan kemasan modern, istilah dan fungsi baul-baul tetap dikenal dalam konteks penyebutan Alame. Hal ini menunjukkan kuatnya hubungan antara produk kuliner dan budaya lokal Mandailing.

(MJ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sah! Zuhari Unggul di Muskab I SMSI Sergai 2026

31 May 2026 - 07:29 WIB

SMSI Madina Laksanakan Qurban di Masjid Madinatul Mukhlisin 

27 May 2026 - 09:04 WIB

MTsN 2 Madina Tegaskan Penerimaan Siswa Baru Sesuai SOP dan Bebas Pungli

17 May 2026 - 05:49 WIB

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Ketum SMSI Firdaus Tegaskan, Mendirikan Perusahaan Pers Adalah Hak Asasi

3 May 2026 - 15:37 WIB

DPC GM GRIB JAYA KOTA PADANG SIDEMPUAN ( Generasi muda gerakan rakyat Indonesia bersatu)

1 May 2026 - 08:31 WIB

Trending on Adventorial