Menu

Dark Mode
Video Pengakuan Kasatlantas Sebut Oknum AKBP Dibalik Kasus Lakalantas Ke Hakim PN Madina Oknum Polisi dan Istri Anggota DPRD Tipu Puluhan Personel, Kerugian Capai Rp10,2 Miliar Fakta Persidangan Korupsi, Ada Dugaan Aliran Dana ke Plt Kadis PUPR Madina Parkir di Masjid Agung Mulai Bayar Jelang Magrib, Pengendara Terkapar di Jalan Raya Mompang Julu BPBD Bersama Pihak PGA Pantau Ketat Perkembangan Gunung Sorik Marapi

Adventorial

Tradisi Mangalame Mandailing, Warisan Sakral Memasak Dodol Jelang Lebaran

badge-check


					Tradisi Mangalame Mandailing, Warisan Sakral Memasak Dodol Jelang Lebaran Perbesar

MADINA azkyalnewsnetwork.com – Tradisi Mangalame Mandailing Natal menjadi momen sakral yang selalu hadir menjelang Hari Raya Idul Fitri di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kegiatan memasak dodol khas daerah yang disebut alame, dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Tradisi ini bukan sekadar kegiatan memasak biasa, karena mangalame adalah simbol kebersamaan setiap warga di kampung dalam menyambut Idul Fitri. Prosesnya bisa melibatkan banyak orang maupun keluarga dan dikerjakan secara gotong royong, dan termasuk juga sebagai moment untuk menyambut sanak family yang akan pulang kampung.

Alame dibuat dari bahan sederhana, yaitu tepung ketan, gula aren, dan santan kelapa. Semua bahan dicampur dan dimasak dalam kuali besar yang disebut blanga. Kuali ini biasanya terbuat dari besi tebal agar kuat menahan panas dalam waktu lama.

Proses memasak alame membutuhkan waktu yang panjang. Adonan harus terus diaduk tanpa henti agar tidak gosong dan matang merata. Pengadukan dilakukan secara bergantian oleh beberapa orang karena membutuhkan tenaga yang besar dan kesabaran tinggi.

Memasak alame bisa berlangsung berjam-jam hingga teksturnya berubah menjadi kental, lengket, dan berwarna cokelat pekat. Aroma gula aren yang berpadu dengan santan menciptakan wangi khas yang mudah dikenali masyarakat Mandailing.

Bagi warga Mandailing Natal, mangalame memiliki makna mendalam. Tradisi ini menjadi ajang mempererat silaturahmi antaranggota keluarga dan tetangga. Biasanya kegiatan dilakukan beberapa hari sebelum Idul Fitri agar alame siap disajikan saat hari raya tiba.

Alame yang telah matang kemudian dipotong dan disajikan kepada tamu yang datang bersilaturahmi. Hidangan ini menjadi simbol kegembiraan dan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan.

Keberadaan tradisi mangalame hingga kini menunjukkan kuatnya nilai budaya masyarakat Mandailing Natal. Di tengah perkembangan zaman, warga tetap mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan blanga dan kayu bakar sebagai sumber api.

Tradisi Mangalame Mandailing Natal bukan hanya warisan kuliner, tetapi juga identitas budaya yang memperkaya khazanah tradisi Lebaran di Indonesia. Kebersamaan, kerja keras, dan semangat gotong royong menjadi pesan utama yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

(MJ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sah! Zuhari Unggul di Muskab I SMSI Sergai 2026

31 May 2026 - 07:29 WIB

SMSI Madina Laksanakan Qurban di Masjid Madinatul Mukhlisin 

27 May 2026 - 09:04 WIB

MTsN 2 Madina Tegaskan Penerimaan Siswa Baru Sesuai SOP dan Bebas Pungli

17 May 2026 - 05:49 WIB

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Ketum SMSI Firdaus Tegaskan, Mendirikan Perusahaan Pers Adalah Hak Asasi

3 May 2026 - 15:37 WIB

DPC GM GRIB JAYA KOTA PADANG SIDEMPUAN ( Generasi muda gerakan rakyat Indonesia bersatu)

1 May 2026 - 08:31 WIB

Trending on Adventorial